Ganti Baju


Biasanya, saya gerak cepat mengganti pakaian Alif begitu dia pulang dari sekolah. Minimal ngawal ala mandor. Setidaknya agar celananya benar-benar dipasang di kaki, bukannya dicosplay dulu ala-ala hijabers kekurangan kain jilbab. Ganti baju yang semestinya gak sampai lima menit bisa sampai satu jam kalau begitu.

Tapi begitulah hidup. Kadang ada saja momen-momen apes yang tidak bisa dikendalikan.

Siang itu, saya sedang lelah sekali. Kepala terasa berat, jadi saya rebahan saja di kursi. Karena mandornya leyeh-leyeh, itu anak buah satu kerjanya jadi cuma muter-muter gak faedah di rumah. Kok ya nggak capek gitu. Gede dikit kalau kelakuan masih gabut begitu mau saya suruh nyikat dan nguras kamar mandi saja.

Satu jam kemudian, mati lampu. Lahdalah, kok ya pas banget. Akhirnya saya ambil jilbab, buka pintu depan, lalu rebahan lagi. Sementara anak sudah mulai mau duduk karena nggak bisa lagi lari-lari. Bosan duduk di kursi, dia pindah ke pintu. Baju acakadut, muka kucel, kepala nyender ke kusen. Dan pas banget, di hari yang semacam itu, moment yang begitu, Bu Gurunya anak saya lewat. Padahal biasanya setiap hari nggak lewat situ.

Anak saya seneng, dong, ada Bu Gurunya di sekolah lewat. Disapanya sambil melambai-lambai bahagia.

"Bu Guruuuuu!"

"Dalem, Mas Alif. Kok, belum ganti baju? Ibunya mana?"

Alif menoleh ke tempat rebahan tadi dan tidak lagi menemukan saya.

🏃

Lamongan, 17 September 2022.

Komentar

Postingan Populer