Gadis Bunga
Kami hanya pernah berjumpa sekali saja, saat menghadiri undangan pernikahan seorang sahabat. Dia gadis manis berwajah rembulan. Sejak itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Sahara, namanya. Sebaliknya, dia seputih salju abadi di Pegunungan Himalaya. Alis hitam membingkai matanya yang dalam meneduhkan. Dia tampak tersipu saat kami tidak sengaja bertemu tatap. Aku mendadak mati rasa, tidak bisa merasakan rindu yang lebih berat dari ini. Gula, kopi, sambal, asam, semua tak berbeda rasanya saat rindu itu menghantam-hantam.
Dia ternyata seorang penjual bunga. Galeri kaca miliknya penuh dengan warna-warni pastel yang menjadikan toko bunganya berbeda. Aku tidak menemukan mawar merah di sana. Tapi gaun merah muda yang membalut tubuh rampingnya, juga rambut bergelombang yang tergerai panjang diselingi mutiara sebagai bandana, semua cukup menjadikannya pusat gravitasi di sana. Benar, tidak ada gunanya mawar merah jika sudah ada dia.
Aku baru sampai di pintu tapi rasanya sudah tidak sanggup menegakkan kedua kaki. Bertemu dengan pengobat rindu ternyata lebih berat dari rindu itu sendiri. Dilan pastilah belum pernah berpaut rindu pada gadis secantik Sahara.
Melihatku tertegun di depan pintu, dia berjalan mendekat. Setiap langkahnya menahan detak jantungku yang semakin melambat. Membawa senyum dan kerling menawan di wajah, dia membuka pintu, menyambutku. Tanpa kata dariku maupun darinya.
Aku menatapnya lama sampai dia melambaikan tangan di depan wajahku. Duh, malunya. Masih tanpa kata, melalui gerakan tangan mungilnya, dia mempersilakanku masuk.
***
Aku terbangun di sebuah ruangan bernuansa putih. Kenangan demi kenangan berkelebat di langit-langit yang tidak henti kupandangi.
"Maaf, aku tidak bisa mencintaimu lagi, Liliana," ucapku kepada mantan kekasihku di hari sebelum aku mengunjungi toko bunga.
"Tentu. Aku bisa melihatnya dari matamu. Pergilah, kejar apa yang tiba-tiba merebut hatimu dari hatiku." Dia berbalik, lalu meninggalkanku.
Seharusnya aku tidak buru-buru meninggalkannya. Sekarang rasa bersalah dan penyesalan memenuhi rongga dada. Kucoba untuk menutup mata sekali lagi, berharap mimpi dapat menghanyutkanku dari kenyataan yang tak seindah harapan.
***
Dia terlihat sangat sibuk melayani pelanggan. Musim pernikahan membuat toko bunga itu menjadi ramai. Sedikit penuh sesak. Kuputuskan untuk duduk di kursi kayu artistik sambil memandangi bidadari bunga itu. Sesekali dia melirikku, lalu tersipu. Tidak dapat kudengar pembicaraan antara dia dan orang-orang yang memesan atau membeli bunga. Sungguh, aku sejak tadi menebak-nebak apakah suaranya akan renyah, manis, atau bahkan merdu.
Beberapa pelayan toko mendatangiku, aku hanya berkata bahwa aku sedang menunggu dia yang sedang kupandangi. Mereka hanya mengangguk dan meninggalkanku. Aku benar-benar menghabiskan waktu berjam-jam untuk dapat bicara berdua dengannya.
Setelah habis waktu siang, saat matahari lebih rendah dan ramah, keramaian pun bertahap menjadi sepi. Orang-orang sudah pergi dan toko tak lagi sesibuk tadi. Hanya ada satu dua pembeli, tapi gadisku tak lagi melayani.
Dia tahu aku menunggu. Dengan anggun kaki jenjangnya melangkah menujuku. Bibir merah muda natural-nya melarikkan senyum. Tanpa gemetar seperti tangan yang kusembunyikan di saku jas, dia mengulurkan segelas es teh lemon yang menggugah. Aku meneguknya sedikit, lalu mulai mengutarakan maksud kedatanganku.
Dia, yang belum berucap sesuku kata pun, terperangah. Tentu saja. Aku bukan tipe lelaki yang akan berlama-lama membiarkan bidadari impianku melajang.
***
Lelapku terganggu dengan suara pintu yang dibuka dari luar. Biasanya tidak semudah ini aku terbangun dari tidur. Mungkin karena sudah terlalu lama tidur, atau pingsan, membuatku mudah terjaga.
Seraut wajah ayu menyembul dari balik pintu. Dia datang. Sejujurnya aku belum siap menampakkan diri di hadapan wajahnya. Jika dia bisa tahu aku di sini, itu berarti dia juga tahu alasan kenapa aku bisa terbaring di ruangan berbau obat ini.
Liliana mengulum senyum sambil berjalan mendekat. Aku megap-megap ingin berkata sesuatu tapi lemah tubuhku tak mengijinkan. Tidak ada ekspresi mengejek di wajah manisnya. Dia meletakkan parsel buah di nakas lalu duduk di samping bed.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya lembut, terdengar sedikit ceria.
Sialan, aku tidak bisa menghentikan pikiranku pada ingatan terakhir sebelum aku berada di sini.
***
"Bagaimana?" tanyaku hati-hati.
Sahara menunduk sejenak, lalu mendongak menatapku. Dia menggeleng keras.
Apa? Dia menolakku? Apa dia tidak melihat betapa kaya dan tampannya aku? Aku tidak sedang over-valued menilai diri sendiri. Itulah kenyataannya mengingat deretan wanita cantik yang berkali-kali kutolak, dan majalah-majalah style-fashion yang menampilkan wajahku di halaman mahal mereka.
"Katakan kenapa?" pintaku sehalus yang kuusahakan.
Kali ini dia tersenyum miring. Kenapa dia bisa tetap semenarik ini bahkan dengan ekspresi mengejek yang semestinya memuakkan?
Dua puluh detik yang lengang diakhiri dengan sebuah kalimat yang meluncur dari bibir indahnya. Akhirnya aku mendengar suara yang kutunggu itu. Oh, kenapa hidup bisa sememalukan ini?
***
Liliana menyimak dengan diam, tapi aku tahu betul dia sedang menahan tawa yang bisa menyembur kapan saja. Wajah putihnya memerah, dan matanya sedikit berair. Aku baru sadar kisah ini seharusnya tidak dia dengar dariku langsung. Sekarang aku menanggung malu yang kuyakin akan berkepanjangan hingga beberapa tahun ke depan.
Liliana sudah tahu, karena itulah tawanya sudah meledak sebelum ceritaku sampai pada gong-nya.
Dia meminta maaf sambil terkikik dan memegangi perutnya. Aku membuang muka.
"Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti tertawa. Sekarang ceritakan kepadaku bagaimana akhir kisahmu. Aku begitu tidak percaya sampai merasa perlu mendengar langsung darimu."
***
"Aku tidak mungkin menjadi istrimu," ucap Sahara, datar.
Bukan penolakan itu yang membuatku terkejut sampai nyaris terjengkang. Tapi karena kalimat itu diucapkannya dengan suara yang rendah, tegas, dan berat. Sejenis suara bariton khas kaum lelaki.
Dapat kudengar para gadis pelayan tersembur-sembur tawanya di antara tangan mereka yang membekap mulut sendiri. Tidak dapat kukendalikan tikungan nasib pada titik ini. Sahara ternyata sama palsunya seperti bunga-bunga pucat yang tak pernah layu di ruangan ini. Tiba-tiba ruangan itu berputar pelan dan menggulungku dalam ketidakberdayaan.
End
Komentar
Posting Komentar