Foto

Alif tiba-tiba nimbrung saat saya sedang buka-buka drive. Dengan santainya saya membuka file demi file yang berisi foto-foto lama, tanpa menyadari bahaya mengancam. Salah satu foto menampilkan saya dan suami yang sedang menikmati pagi di kota Jogja. 

"Itu Ibu sama Ayah di mana?" tanyanya dengan nada protes.

"Oh, di Jogja." Saya menjawab dengan santai.

"Kok, Alif ndak diajak?" Dia komplen. Seperti tidak terima karena tidak ada gambar dirinya juga.

"Waktu itu Alif belum lahir," jawab saya sambil cengengesan. Canggung juga, sebenarnya. Perasaan mulai tidak enak.

"Ibuuuu, Alif harus diajak, ya!" Kali ini lebih sengit.

Lah, kok beneran enggak terima? 

"Alif belum ada. Kan, belum lahir!" Saya berusaha menjelaskan.

Tapi percuma. Dia kekeuh mau diajak. Sampai lama saya menjelaskan berulang-ulang seperti kaset rusak. 

Lama-lama dia ngamuk. Saya cuma bisa ngakak. Benar-benar situasi yang menjengkelkan. Tapi, biarpun begitu, saya masih sangat bersyukur.

Bersyukur enggak pernah majang atau nunjukin foto nikah.

Komentar

Postingan Populer