Doa Ibu
Waktu berbuka telah tiba. Aku meneguk sedikit air putih, lalu beranjak menyusul ibu di kamar. Pendengaran wanita yang telah melahirkanku itu tidak setajam dulu lagi, seperti saat ia menyimak bacaan Al Quranku di masa kecil.
"Bu, sudah maghrib, ayo, berbuka dulu," ajakku.
Beliau sedang bertadarus dengan posisi bersandar pada bantal yang disusunnya di kasur. Derit ranjang mengiringi usahanya untuk sekedar bangun dari duduknya. Sengaja aku tak membantunya demi membiarkannya merasakan bahwa dirinya mampu dan kuat, sebagaimana selalu didengungkannya setiap kali aku 'terlalu membantu'.
Tak ingin mendahului langkahnya, aku beralasan bercermin membenarkan posisi songkok yang kukenakan. Setelah ibu keluar kamar, cepat-cepat aku mengikutinya dari belakang. Di meja telah tersedia sepiring kecil kurma, ikan goreng, dan sayur bayam. Serta sebuah teko berisi air matang dan dua gelas kosong.
Kuambil sebutir kurma, lalu memakannya. Terdengar seruan iqomah di masjid yang tak jauh dari rumah. Segera kutinggalkan rumah setelah berpamitan pada ibu.
Jamaah maghrib kali ini cukup ramai. Sekitar enam shaf telah terpenuhi. Di barisan belakang, aku berdiri mengerjakan salat.
Sepulang dari masjid, kudapati ibu masih duduk di tempatnya saat kutinggalkan tadi. Makanannya masih utuh, jelas sekali belum disentuhnya. Samar-samar, tercium aroma tak sedap yang menguar.
Dalam senyap, kubawa ibu ke kamar mandi, membersihkannya dari sisa-sisa najis, menyabuni, lalu mengguyurnya dengan air hangat. Aku tak pernah lupa menyediakan air panas penuh di termos yang cukup besar, mengingat ibu sudah tak seperti dulu, dan hal seperti ini bukan pertama kali terjadi.
Selesai mensucikan banyak hal, juga memakaikan pakaian bersih untuk ibu, kududukkan ibu yang telah wangi di ranjangnya. Ibu tak berkata apa pun sejak aku datang dari masjid tadi. Aku pun tak bertanya perihal yang terjadi pada dirinya.
Tanpa penawaran dariku, juga tanpa penolakan dari ibu, kulakukan apa yang sepantasnya dilakukan seorang anak kepada ibunya. Aku tahu, ibu malu, tak enak, dan sungkan. Semua terlihat jelas dari pandangannya yang terus menunduk. Sempat terdengar isakan kecil tadi sesaat setelah kupakaikan baju.
“Ibu, Kau tak perlu merasa malu atas apa yang selayaknya kulakukan padamu. Biarkan putramu ini merawatmu seperti Kau merawatku dulu,” ucapku lirih.
Aku tersenyum menatap ibu. Sedikit terpaksa, ibu pun membalas senyumku, walau kedua matanya berkaca-kaca.
"Kuambilkan makan, ya, Bu ...." Ini bukan penawaran sebenarnya, sekedar memberi tahu.
Aku ke dapur mengambil makanan yang tadi belum dimakan ibu. Memotong-motong bayam dengan sendok, lalu menyiangi ikan dari durinya. Tubuh ibu terasa hangat saat kuangkat tadi, mungkin kesehatannya sedang kurang baik. Jadi, kupikir akan lebih bagus baginya nanti jika makanannya lebih mudah dimakan.
Di usia senjanya, bicara ibu sudah tak sebanyak dulu. Masing kuingat betapa cerewetnya ibu saat aku masih kecil. Ia kini lebih sabar dan banyak menerima. Apalagi saat tubuhnya semakin hari semakin ringkih termakan usia. Ia bisa jadi merasa malu harus dirawat oleh anak lelakinya. Seandainya ibu tahu, bahwa tak sedikit pun risih dan enggan dalam hati setiap kali harus memandikannya dan membersihkan sekedar kotorannya.
Ibu makan dengan lahap. Mungkin sejak tadi ia sudah kelaparan. Kubersihkan bekas makanan yang belepotan di sekitar bibir, lalu kutanyakan padanya, "Ibu, masih punya wudlu?"
Dengan tersenyum malu ibu menggelengkan kepalanya.
***
Malam ini aku tak ke masjid untuk salat Isya dan tarawih seperti biasa demi menjaga ibu di rumah. Ibu sedang sering bolak-balik ke kamar mandi. Aku khawatir ibu jatuh jika tak kuawasi.
Pukul sembilan malam. Ibu belum juga tidur. Sejak tadi aku hanya memijiti kedua kaki dan tangannya sambil mendengarnya bercerita tentang Almarhum Bapak dan masa kecilku. Ia selalu ceria setiap kali mengenang masa itu. Ketika mata tuanya telah sayu, dimintanya aku membacakan surah-surah pendek. Aku pun membacakannya hingga ia terlelap. Persis seperti saat dulu ia membacakannya untukku sebelum tidur.
***
Hawa malam ini terasa melenakan. Lelah, kurebahkan diri di kamar sejenak untuk melepas penat. Pergelangan tanganku terasa pegal. Tanpa terasa, aku pun terlelap.
Dini hari, sekitar pukul dua, kurasakan gejolak ingin ke kamar mandi. Melewati kamar ibu, terlihat ia sedang berdoa setelah menunaikan salat. Kalimat-kalimat dari bibirnya membuatku haru.
"Selamatkanlah putraku di dunia dan akhirat, Ya Allah. Aku bersasksi atas baktinya selama ini. Ampunilah dosa-dosanya sebagaimana ia membersihkanku dari kotoranku sendiri. Bangunkanlah ia rumah yang indah di surga. Mudahkanlah segala urusannya di dunia. Dia kesayanganku, pelita hatiku, cintailah dia sebagaimana dia mencintaiku dan aku mencintainya. Kuatkanlah imannya, bahagiakan ia di dunia dan akhirat, Ya Allah. Dia titipan terbaikmu, maka kepadamulah kutuntutkan doa-doa kebaikan untuk dirinya."
Doa ibu belum selesai, namun aku sudah tidak sanggup menyimak lebih banyak lagi. Kupelankan langkah mengambil wudlu, menunaikan rakaat demi rakaat sepenuh hati.
Hening. Tiada riuh penduduk bumi di malam mulia. Malam seribu bulan yang dinantikan setiap jiwa. Semua bersujud memohon ridha Illahi. Tetes demi tetes air mata membasahi. Doa ibuku yang tak dapat kutandingi. Kuharap kasih sayangnya dibalas dengan kasih sayang Allah kepadanya.
Aku memohon ampun atas segala ketidakbaikan pada diri, juga pada ibu. Aku pun bersaksi bahwa ialah wanita terbaik yang telah Allah pilihkan untuk mengawalku di dunia ini. Semoga malam ini menjadi malam pengampunan bagi kami. Dalam ridha Allah dan ridha ibuku.
_Selesai_
Komentar
Posting Komentar