BoBoiBoy Lokal
Kala itu, saya dan si kecil nonton belasan episode BoboiBoy Galaxy. Saya berharap dengan begitu dia akan mendapat banyak pencerahan seputar ke-BoboiBoy-an, lalu berhenti ngotot berperan menjadi BoboiBoy Bensin (Ini cita-cita teranyarnya masa itu).
Kipas angin sudah dinyalakan dan kelambu tidur sudah ditutup. Kami bahkan sudah berdoa sebelum tidur, membaca buku cerita, dan merapal surat-surat pendek sebagaimana biasanya. Pada detik-detik terakhir menjelang lelap, saya sempatkan bertanya hal yang teramat penting agar saya dapat tidur dengan lebih nyenyak.
"Kalau Alif jadi BoboiBoy, Alif mau BoboiBoy apa?"
Saya mereka-reka dalam pikiran deretan kuase BoboiBoy. Ada kuase api, air, tanah, angin, daun, dan halilintar. Tidak pernah ada BoboiBoy bensin.
"Alif mau jadi ...." Dia menggantung kalimatnya.
Saya tidak sabar mendengar kabar baik itu. Semoga bukan BoboiBoy bensin lagi.
"... BoboiBoy ...."
"... pulpen!"
Hah?
"BoboiBoy pulpen, Ibu!" ulangnya.
Saya speechless. Otak jadi buntu memikirkan kemampuan macam apakah yang bisa dilakukan oleh sebuah pulpen. Mencatat Anggaran Belanja Negara? Lagian sudah mau tidur, kenapa pula saya cari gara-gara.
Baiklah, sepertinya malam sudah terlalu larut. Mungkin dia lelah. Besok-besok ajalah.
Maksudnya, besok-besok saya nggak akan nanya-nanya begitu lagi. Titik.
Komentar
Posting Komentar