BATIK
Akhir-akhir ini saya mulai nyaman mengenakan batik. Saya merasa lebih powerful, berasa seperti Ratu Joseon di 'Under The Queen's Umbrella'. Terutama saat menghadapi anak lelaki. Emak-emak banget. Dia Nge-barongsai, saya nge-reog.
Padahal penyebab utamanya sebenarnya hanyalah tidak adanya pakaian lain yang sudah disetrika.
Dengan gagah berani, saya uji nyali ke pasar pukul enam pagi. Pakai batik.
Dulu, saya ingat sekali, pernah ke pasar memakai pakaian batik yang sama. Hampir sepanjang saya berlalu lalang, saya dipandangi oleh nenek-nenek pedagang pakaian. Bisik-bisik angin mengabarkan, katanya, pakaian saya bagus sekali. Intinya, para nenek itu naksir pakaian saya.
Kali ini, mengingat masih terlalu pagi dan biasanya hanya tiga-empat pedagang yang sudah buka, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa.
Tapi, Tuhan, mengapalah Engkau selalu begini?
Ternyata nenek pedagang pakaian itu sudah tiba. Sejak datang sampai selesai belanja, saya dilihatin.
Kalau tidak salah saya pernah diberi sesisir pisang oleh beliau. Entah waktu itu pakai batik apa tidak. Bukan apa-apa, saya kuatir kali ini akan diberi setelan baju model terbaru. Kan, jadi enak.
Selesai belanja, saya melewati beliau. Tokonya masih belum dibuka. Beliau hanya duduk santai di bangku kayu depan tokonya.
Dan saya dipanggil.
Lalu terjadilah interview singkat.
"Namanya siapa?"
"Aslinya orang mana?"
"Suaminya orang mana?"
"Nama mertuanya siapa?"
"Ibunya kerja apa?"
Demikianlah. Saya menjawab apa adanya dan bertanya balik sekadarnya.
Untungnya, pertanyaan random itu tidak sampai membahas pakaian batik ini beli di mana dan berapa harganya. Saya nggak enak jawabnya, soalnya ini bermerk. Merk KASIO. DiKASIh Orang.
Komentar
Posting Komentar