AROMA

 Ternyata, sabun dodol kemarin sakti juga. Kata si ayah, sabun hijau itu bagus. Seingat saya, sempat baca keterangan di bungkusnya, bisa sebagai antiseptik. Saya pun mencoba menyabuni jari kaki yang gatal dan sedikit perih karena beberapa hari terakhir banyak main air. 


Di luar dugaan, meski sabun itu hanya saya busa-kan dan diusap-usapkan sekenanya di jari kaki lalu dibilas, hasilnya tokcer. Paginya saya mendapati bagian kaki yang bemasalah langsung kering dan mulai mengelupas alami. Tanpa ragu, saya langsung menggunakannya untuk mencuci muka dan berhenti nyinyir soal bau dodol.


Hanya saja, kemarin, saat belanja ke pasar, saya telanjur membeli sabun lain. Ada berbagai merk sabun tersedia. Biasanya, saya akan memilih sabun kesehatan seperti Dettol atau Lifebuoy. Tapi saya merasa harus memilih sabun yang harumnya mampu menandingi aroma dodol di kamar mandi. Sabun Harmony Strobery.


Mengetahui saya beli sabun stroberi, Alif jadi semangat mandi. Sekali dua kali, aman. Dia belum tahu ada sabun dodol karena tidak saya tunjukkan. Sampai kemudian dia mendengar percakapan saya dan ayahnya.


"Mas, barusan, mandi pakai sabun apa?" tanya saya, sedikit sengit.


"Aku, sih, sabun hijau. Kan, aku pinter," jawab si ayah. Padahal, orang pinter itu karena minum T*lak Angin, kan?


"Sabun hijau?" tanya bocah lima tahun itu, antusias.


"Iya. Kan, Ayah pinter!" Provokasi dimulai.


"Ibu, Alif mau mandi pakai sabun hijau saja. Biar pinter seperti Ayah!" Jemaah sekte mengultimatum.


Berkali-kali saya menawarkan sabun stroberi tapi dia ngotot mau sabun dodol. Saya tiba-tiba saja menjelma menjadi sales sabun gratisan. Merayu, memuji, mengancam, mengobral testimoni. Tetap nggak laku. Padahal sedikit lagi saya sudah bisalah jadi sekadar kayak artis endorse atau malah Brand Ambassador. 


Jadilah sore itu, dengan sedikit tidak ikhlas, saya menyabuni Alif dengan sabun dodol.


"Ibuuuu!!! Kok bau sabunnya ndak enak beginiii!!!" komplen Brand Ambassador baru sabun dodol setelah saya laburi badannya dengan sabun sakral itu.


Kaaann, apa saya bilang. Ngeyel, sih, Ente. 


Saya terbahak-bahak melihat Alif uring-uringan. Maqom-mu belum sampai seperti ayahmu, Nak. 


Akhirnya dia saya sabuni lagi, berharap dengan begitu dapat menghilangkan aroma menyedihkan yang sempat membuatnya senewen.


Saya berhasil. Alif sudah tidak lagi bau dodol hijau.


Tapi dodol stroberi.

Komentar

Postingan Populer