AMPLOP KESAYANGAN

 Awalnya, saya terciduk oleh anak endiri sewaktu memasukkan uang ke dalam amplop. 


"Itu apa, Ibu?"


"Ini namanya amplop."


"Buat apa?"


"Buat nyimpan uang untuk bayar air. Nanti ini dikasihkan ke orang yang keliling buat ngambil uang pembayaran air."


"Oh, begitu."


Sebenarnya, percakapan hari itu aman dan damai, tidak berimbas apa pun, kalau saja besoknya saya tidak iseng memberinya amplop juga.


"Wah, ini amplop buat Alif?" Dia semringah.


"Iya, buat simpan uang," jawab saya penuh kebanggaan. 


Betapa hebatnya saya karena punya ide cemerlang mengajari anak menabung dan menyimpan uangnya sendiri, bukan hanya menabung di sekolah. Amplop itu saya buatkan khusus untuknya dengan ukuran super jumbo dan lapisan solasi di setiap sisi dan pinggiran kertasnya agar tidak mudah robek.


Betapa kreatifnya saya. Walaupun, sebenarnya saya sudah menyiapkan kardus untuk kami berkreasi bersama membuat celengan yang berhiaskan flanel warna-warni. Setidaknya, amplop bisa jadi permulaan sederhana untuk belajar menyimpan uang sendiri.


Intinya, saya punya visi dan misi yang baik, bahkan keren. Meskipun pada kenyataannya ....


"Ibu, Alif mau main!"


"Oke."


"Bawa amplop, ya?"


"Mboteeeennnnnnn!"


Kali lainnya ....


"Alif mau ikut ke tempat Mbah Uti?"


"Mauuuuuu!"


"Ya sudah, siap-siap."


"Tapi bawa amplop!"


"Ngapaaaiinnn?!?!?!"


Atau yang paling sering ....


Sudah mandi, wangi, rapi, dia membuka pintu ruang tamu lebar-lebar, lalu duduk manis di tengah jalan masuk itu sambil memegang amplop besar di depan dada dan tersenyum entah pada siapa.


Kalau ada yang lewat, siapa pun, baik teman-teman sekolah, anak SD, SMP, emak-emak, bapak-bapak, embah-embah, ayam, anak ayam, keluarga besar ayam, semua akan disapa, lalu bilang ....


"Aku punya amplop, isinya uang #$%%$?@#%7$#%...."

Komentar

Postingan Populer