ADUAN
Suatu siang, si ayah mengadu ke saya. Sebetulnya ini menyalahi adat di rumah. Aturan kan saya yang tukang ngadu. Lha ini kok dia nyamber jatah saya. Lagian ga ada gunanya ngadu sama saya. Meskipun, aduan kali itu ternyata tidak tergolong darurat.
"Dengar, Alif tadi nyanyi apa?" Begitu aduan Suami.
"Apa, memang?" tanya saya.
"Kumenanti kau tuk kembali ...." Si ayah menirukan lirik lagunya Keisya Levronka yang sedang viral.
Saya ngakak diam-diam di dapur. Paling aman memang mengghibahi anak sendiri, pahala dan dosanya muter di sini-sini aja. Sementara saya dosanya dobel, karena ayah dan anak itu saya gunjingi setiap hari di sini.
Hayo, lo. Kurang profesional apa saya jadi tukang ghibah? Fair play saya mah orangnya.
Oh iya, setelah puas ngakakin si anak, saya tambahin perjulidan kami biar afdol.
"Yaelah, Mas. Itu masih mending lagunya Keisya. Waktu itu aku dengar dia nyanyi soundtracknya 'The Greatest Showman' yang 'Never Enough'. Dia nyanyi sambil ngulek lego. 'Neweyinaf... newey ... newey .... Neweyinaf ... newey ... newey ....' Itu ngapain coba dia begitu."
Memang anak satu itu penuh penghayatan, emosional. Baca surat Al-lahab saja dia pakai emosi seperti sudah pernah ketemu dan dizalimi Abu Lahab. Disuruh pulang main, dramanya kayak disiksa ibu tiri. Kalau pas minta dibeliin mainan, lagaknya seperti anak terlantar yang gak pernah punya apa-apa.
"Alif ndak punya mainan!" rengeknya.
Hey, Nak, tolong, ya. Mbok ya ngarang kalimat sendiri. Itu kan template kalimat Ibu kalau ngode minta dibelikan baju.
Komentar
Posting Komentar