Rahasia Harisa 1: Dua Perindu



Di antara semua yang ditinggalkan, entah kenapa dia membawaku. Karena aku cantik? Rasanya tidak mungkin. Aku sudah terlalu tua dan tak sekuat dulu. Aku telah pudar, tapi entah di hatinya. 


Mulai kini, aku mungkin akan bersahabat dengan Junia, putri kesayangan sahabat lamaku, Neswari. Yang datang memang tak pernah bisa menggantikan yang pergi, tapi aku percaya Junia mewarisi tidak hanya wajah teduh ibunya, melainkan juga dengan kebaikan hatinya.


Gadis itu sungguh beruntung. Nasib membawanya menempati rumah yang, menurutku, sangat mewah. Tangannya tak sekasar dulu saat dia mengusapku. Dia menempatkanku di dalam ruang yang diterangi cahaya tiga lampu berjejer tepat di atasku. Jauh berbeda dengan dulu, saat aku setiap hari merasakan belaian cahaya matahari yang menelusup melalui celah dinding dapur yang sedikit renggang. Kini dinding rumah sangatlah berkilau dan dingin. Kuharap rumah ini akan tetap hangat oleh kasih sayang yang meluap-luap. Kuharap, seandainya bisa, aku dapat menemukan cinta seperti yang dulu pernah kudapatkan.


Sejujurnya, aku sedikit sungkan. Semua yang ada di sini tampak mahal dan dingin. Tiga lampu bertudung di atasku akan padam di malam hari, saat makan malam telah selesai dan Junia mencuci peralatan makan. Kabar baiknya, tidak ada tikus yang berlalu-lalang mengincar sisa makanan yang kusimpan.


Yang paling membuatku bahagia, ada selembar kain cantik yang menghiasiku agar tampak senada dengan banyak perabotan di sini. Sejenis kain tudung berkilau yang berenda di tepiannya. Aku merasa hangat dan berharga.


Semalam, kukira lampu itu tidak akan dinyalakan hingga subuh tiba. Junia datang. Dia menyalakan lampu, lalu duduk di kursi meja. Aku merasakan gelombang energi yang tak biasa darinya. Aku dapat merasakannya menjalar pada rangkaku dan menyelimutiku dengan rasa yang sama. Saat tangan wanita itu mengusapku, dia menularkan rasa kehilangan yang sama seperti kehilanganku atas Neswari. Andai Junia tahu bahwa aku pun merasa kehilangan.


Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghalau kesedihannya. Andai aku bisa, ingin aku mengingatkannya pada saat-saat menyenangkannya dulu. Saat dia masih kecil dan sering mencuriku dari dapur untuk dibawanya bermain di halaman. Atau, jika bisa, rasanya aku ingin menyampaikan ulang lelucon lama seperti yang pernah Neswari lakukan. Ah, tentu saja, itu tidak boleh. Nanti dia akan semakin menangis. 


Lama Junia menatapku berkaca-kaca. Sedihku tidak terbendung saat dia bersuara lirih memangil ibunya hingga tersendat-sendat. Kami hanyalah dua hal yang berbeda, tapi sama-sama merindukan wanita yang pernah menyayangi kami sepenuh hati. 


Cinta tak hanya dimiliki oleh yang hidup. Aku menyayangi sahabatku, Neswari, sebagaimana dia menyanyangiku.


Dapur, malam keseratus satu kepergian Neswari.

Komentar

Postingan Populer